YAYASAN MUTIARA SURGA

KEIMANAN ASH-HABUL KAHFI

Bagikan :

Keimanan Ash-Habul Kahfi

Sampainya Hidayah

Keimanan Ash-Habul Kahfi – Alloh mengutus Al-Masih Isa bin Maryam sebagai seorang rasul kepada umat manusia untuk mengajak mereka beribadah hanya kepada Alloh semata, tiada sekutu bagi-Nya. Kaum Hawariyun berkelana di muka bumi untuk menyeru manusia menyembah Alloh dan mengikuti ajaran nabi Isa ‘alaihissalam. Karenanya, banyak orang yang beriman hingga dakwah ini sampai ke Byzantium, sebuah kerajaan Romawi kuno yang diperintah oleh seorang raja lalim, ingkar kepada Alloh, dan menyiksa orang-orang mukmin dengan siksaan yang paling pedih. Ia adalah Raja Dikyanus. Sungguh, iman telah menyusup masuk secara diam-diam ke dalam hati Biranus, salah seorang menteri Dikyanus. Tapi ia menyembunyikan keimanan tersebut di dalam hatinya agar rajanya yang lalim itu tidak memaksanya kembali menjadi kafir. Tidak hanya Biranus yang beriman, bersamanya ada seorang penggembala kambing yang juga beriman. Dialah seorang yang menjadi perantara sampainya hidayah kepada Biranus.

Kota Efesus adalah kota yang ditempati oleh raja Dikyanus dan para kaki tangannya. Di kota itu pula orang-orang mukmin menyembunyikan keimanan mereka. Di kota itu ada seorang pemuda tampan dan kaya raya, tapi menyembunyikan keimanannya dari orang lain. Dia adalah Imilkha. Ayah Imilkha adalah salah seorang kaki tangan raja. Hanya saja, Alloh telah memberikan petunjuk kepadanya untuk beriman. Ia mampu menyeru generasi muda Efesus untuk beriman, sehingga ada dua orang lagi yang beriman melalui perantaranya, yaitu Dimawus dan Marthus. Melalui kedua orang ini, ada dua orang lain yang mau beriman. Dua orang itu bernama Withunus dan Kasyuthus. Sosok terakhir yang beriman adalah seorang pemuda lain, yaitu Mahsimilina. Mereka bertujuh beriman kepada Alloh memeluk agama Nabi Isa ‘alaihissalam.

Mereka berkumpul pada malam hari di rumah sang penggembala yang baik. Ia mengetahui kedatangan mereka bila mendengar gonggongan anjing yang berdiri di depan pintu rumah untuk menjaganya. Suatu malam, ketujuh orang mukmin itu berkumpul di rumah sang penggembala yang baik, sehingga mereka saling mengenal satu sama lain. Tak ada seorang pun di antara mereka yang menyembunyikan keimanannya kepada yang lain, sebab mereka telah disatukan oleh kalimat tauhid, yaitu laa ilaaha illallaah.

Upaya Raja Lalim

Keimanan Ash-Habul Kahfi – Dikyanus, sang raja yang lalim ingin menakut-nakuti orang-orang mukmin yang menyembunyikan keimanan dalam hati mereka. Ia mengumpulkan penduduk Efesus pada hari raya mereka. Dikyanus mengeluarkan salah seorang mukmin dari dalam penjara dan memasukkannya ke dalam arena perlombaan. Ia melepaskan seekor singa yang sedang lapar hingga singa itu menerkam dan memangsa seorang mukmin yang malang. Raja Antikhis berteriak membahana, “Inilah balasan bagi setiap orang yang beriman kepada Alloh, yaitu menjadi mangsa singa yang lapar.” Semua orang merasa takut akan kekejaman dan kelaliman sang raja. Sehingga, mereka memproklamirkan diri tidak akan pernah beriman kepada Alloh. Sebaliknya, akan selalu menyembah berhala.

Dikyanus yang lalim akhirnya mengetahui tentang keberadaan tujuh orang mukmin itu. Tujuh orang beriman itu melihat pemandangan orang mukmin yang dimangsa singa lapar. Mereka pun membulatkan tekad untuk melarikan diri keluar dari Efesus, kota yang lalim dan kafir.

Tinggal Di Gua

Keimanan Ash-Habul Kahfi – Orang-orang mukmin itu masuk ke dalam gua. Alloh menidurkan pemuda-pemuda beriman ini dalam gua selama 309 tahun. Dalam hal ini Alloh ingin memberikan sebuah pelajaran baru kepada manusia, yaitu bahwa Alloh Maha Kuasa untuk mematikan manusia kemudian menghidupkan mereka kembali, sebagaimana yang akan Dia lakukan nanti pada hari kiamat. Selain itu, karena para pemuda tersebut orang-orang beriman, maka Alloh menjadikan mereka sebagai pertanda dan bukti atas kekuasaan Alloh untuk menyatukan kembali ruh dan jasad setelah mati.

Setelah berlalu 309 tahun, Alloh berkehendak untuk membangunkan para pemuda yang beriman itu. Mereka kemudian terjaga dari tidurnya. Tubuh mereka serasa hampir hancur karena terlalu banyak tidur. Alloh telah menghilangkan tirai yang menutupi telinga mereka, sehingga mereka dapat mendengar kemudian terbangun dari tidur. Salah seorang di antara mereka kemudian bertanya, “Berapa lama kita tidur di sini?”

Yang lain menjawab tanpa terbayangkan olehnya jangka waktu yang telah mereka habiskan untuk tidur, “Kita di sini sehari atau setengah hari.”

Orang yang ketiga menjawab, “Rabbmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu. Dan hendaklah ia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan keadaan kalian kepada siapa pun.”

Salah seorang dari mereka keluar dengan membawa uang perak. Ia tidak tahu bahwa dirinya telah tidur selama tiga abad lebih Sembilan tahun. Tiba-tiba ia melihat sebuah keanehan. Yang ia lihat ternyata adalah kota lain, bukan Efesus yang ia kenal. Rumah-rumah bukan pada tempatnya lagi dan pintu gerbang kota juga tidak ada berhala. Bahkan, berhala raja Dikyanus pun sudah tidak ada. Apa mungkin semua itu telah terjadi hanya dalam waktu sehari semalam? Lebih aneh lagi, orang-orang menatapnya keheranan. Ia merasa khawatir akan keselamatan dirinya dan waspada terhadap mata-mata Dikyanus yang ia kira masih hidup. Ia bergegas pergi kepada salah seorang pedagang, lalu mengeluarkan uang peraknya. Si penjual menatapnya kemudian berkata, “Uang aneh apa ini? Siapa kamu? Gambar siapa ini?

“Ini gambar Raja Dikyanus.” Jawabnya.

Sang penjual berkata, “Kamu gila, Dikyanus semoga laknat Alloh bagi si kafir itu sudah mati tiga abad yang lalu.” Pemuda itu bertambah bingung dan heran, seolah darahnya berhenti mengalir dalam nadinya.

Dia bertanya keheranan, “Tiga abad yang lalu? Laknat Alloh atas Dikyanus? Si kafir itu telah mati?

Penduduk Kota Telah Beriman

Keimanan Ash-Habul Kahfi – Beberapa saat kemudian, orang-orang mengerumuninya dan membawanya ke istana raja. Raja menanyakan jalan ceritanya. Pemuda itu menceritakan pelariannya bersama keenam orang sahabatnya dari Dikyanus. Sang raja merasa heran seraya berkata, “Kamu beriman kepada Alloh yang Maha Kuasa. Alloh menjadikan kalian bertujuh dan anjing kalian tidur selama tiga abad, kemudian Dia menghidupkan kalian lagi. Oh, alangkah Maha Kuasanya Alloh.”

Raja menceritakan kepadanya bahwa Dikyanus telah meninggal, dan mereka semua beriman pada risalah Isa ‘alaihissalam. Selanjutnya, mereka meminta pemuda itu untuk membawa mereka ke gua tempat para sahabatnya berada. Pemuda itu pun pergi ke sana. Orang-orang kian bertambah banyak. Mereka ingin melihat pemandangan yang sangat menakjubkan itu. Pemuda beriman itu meminta izin kepada raja untuk masuk lebih dahulu menemui para sahabatnya, agar mereka tidak takut dan lari karena mengira Dikyanus masih hidup.

Pemuda itu masuk ke dalam gua dan menemui teman-temannya untuk menceritakan kepada mereka tentang apa yang sesungguhnya telah terjadi pada diri mereka dan tidur mereka. Mengetahui kenyataan yang terjadi, mereka semua menangis dan Alloh telah menambahkan keimanan kepada mereka di samping keimanan yang telah ada pada diri mereka. Mereka kembali tertidur. Tapi, kali ini tidur mereka adalah tidur yang kekal dan tidak pernah bangun, kecuali pada hari kiamat nanti. Kali ini mereka benar-benar meninggal dunia. Penduduk negeri menyaksikan salah satu keajaiban Sang Khaliq. Kemudian mereka membangun sebuah masjid di atas kubur para pemuda mukmin itu. Ini merupakan sebuah kesalahan besar. Sebab, Alloh telah melarang menjadikan kuburan sebagai masjid tempat untuk shalat. Kisah ini terus hidup di hati semua orang yang beriman.

Ikut Partisipasi Mendukung Program, Salurkan Donasi Anda di Sini!

www.mutiarasurga.org