YAYASAN MUTIARA SURGA

MUSA DAN QARUN

Bagikan :

Musa dan Qorun

Harta Qorun dan Kenabian Musa

Harta dan kenabian, manakah di antara keduanya yang lebih baik? Inilah yang selalu dipikirkan oleh Qarun, anak paman Nabi Musa ‘alaihissalam. Qarun dengki dan iri kepada Musa atas kenabiannya. Di sisi lain, Bani Israil mencintai Qarun, sang pemilik suara nan merdu. Apabila ia membaca Taurat, maka hati dan jiwa terasa khusyuk menyimak kalam Alloh itu.

Hari demi hari terus berlalu. Qarun mendapatkan anugerah yang besar dari Alloh. Alloh memberinya rezeki yang melimpah dan menganugerahkan perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Sayangnya, saat Qarun seharusnya bersyukur kepada Rabbnya dan mengeluarkan sedekah hartanya, ia justru bertindak aniaya terhadap kaumnya. Ia bersikap sombong kepada mereka, menzalimi mereka, dan berharap memiliki kekuasaan di kalangan Bani Israil menggantikan Nabi Alloh Musa ‘alaihissalam. Sebab, ia merasa bahwa harta dan kekayaan lebih baik daripada kenabian. Qarun lupa bahwa harta itu milik Alloh yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sedangkan kenabian adalah hak Alloh yang Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. Oleh karena itulah, kaumnya yang sebelum itu senang kepadanya berubah membencinya.

Suatu hari, Qarun keluar dalam sebuah iring-iringan yang besar. Ia mengenakan pakaian yang sangat mewah. Di hadapannya beberapa ekor kuda dan unta berjalan, sementara di sekeliling iring-iringan ada para pembantu dan pelayan. Orang-orang pun tercengah melihatnya sampai-sampai mereka yang menginginkan kehidupan dunia mengatakan, “Andai kita memiliki harta kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun! Sesungguhnya, dia memiliki keberuntungan yang sangat besar.”

Maka orang-orang yang dikaruniai ilmu dari kalangan bani isra’il pun menimpali, “Celaka kamu! Ketahuilah, pahala, surga, dan ridha Alloh itu lebih baik bagi orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya akan diperoleh oleh orang-orang yang saleh.”

Qarun kemudian didatangi oleh sebagian kaumnya yang berasal dari kalangan orang-orang saleh. Mereka melihatnya sedang meminum khamer, berbuat kerusakan di muka bumi, dan melakukan perbuatan keji. Mereka pun berkata, “Janganlah engkau terlalu membanggakan apa yang telah Alloh karuniakan kepadamu dan bersikap sombong kepada orang lain. Sebab, sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri lagi sombong. Jangan kau lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi. Ambillah kenikmatan duniawi yang halal dan tinggalkanlah yang haram.

Kesesatan telah memenuhi hati Qarun dan setan telah menguasai hatinya. Lantas Ia pun menjawab, “Sungguh, aku mendapatkan seluruh harta ini dengan kerja keras dan ilmuku, tidak ada seorang pun yang memiliki andil di dalamnya. Alloh mencintaiku, dan oleh karenanya Dia memberikan harta yang melimpah kepadaku. Dan aku tidak akan memberikan sedikit pun kepada orang lain.” Orang-orang yang berilmu itu kemudian menasihatinya.

Kemudian orang-orang sholih berkata, “Sesungguhnya, Alloh telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, padahal mereka lebih kuat daripada kamu dan lebih banyak hartanya.”

Ambisi Qorun Membara

Dendam Qarun kepada Musa dan orang-orang Bani Israil yang berilmu semakin besar. Ia berambisi ingin segera meruntuhkan popularitas Nabi Musa supaya ia bisa mendapatkan kekuasaan dan kepemimpinan di tengah-tengah Bani Israil. Ini semua demi menggenapkan ambisinya, yaitu kepemimpinan setelah berhasil mendapatkan kekayaan dan kemewahan.

Qarun berpikir, merenung, dan memeras otak busuknya, hingga akhirnya mendapatkan sebuah ide busuk. Qarun memanggil seorang wanita jalang yang berakhlak bejat. Ia memberinya harta dan berkata kepadanya, “Pergilah kepada Musa saat ia sedang berkhotbah dan menasihati orang-orang, lalu katakanlah ‘Sungguh, Musa telah melakukan satu perbuatan keji denganku’.”

Qarun lupa bahwa Musa adalah rasul dan nabi Alloh. Alloh akan senantiasa memelihara rasul dan nabi-Nya dari setiap kejahatan.

Wanita jalang itu pun pergi menemui Musa yang saat itu sedang bersama sekelompok orang dari Bani Israil. Lantas wanita itu mengatakan, “Musa, aku datang untuk mengadukan kepada orang-orang tentang apa yang telah engkau perbuat denganku.” Musa bertanya, “Memangnya apa yang telah aku perbuat kepadamu?” Engkau telah melakukan perbuatan keji begini dan begitu kepadaku.”

Wajah Musa ‘alaihissalam memerah. Ia menghampiri wanita itu untuk menanyai dan memintanya bersumpah atas nama Alloh tentang apa yang menyebabkannya berkata demikian kepadanya, padalah ia adalah seorang nabi yang dilindungi Alloh dari kesalahan. Wanita itu kemudian menyesal dan berkata, “Wahai nabi Alloh, Qarun, anak pamanmu, dialah orang yang menyuruhku untuk berkata demikian.”

Nabi Musa pun memanjatkan puji kepada Rabbnya karena telah menjelaskan ketidakbenaran tuduhan ini. Ia pun sujud syukur kepada Alloh.

Doa Musa dan Qorun Binasa

Musa kemudian pergi ke tempat Qarun ditemani beberapa ulama Bani Israil. Nabi Musa menemui Qarun dan berkata kepadanya, “Qarun kenapa kau menuduhku yang tidak benar?” Qarun menjawab, “Musa, jika kamu diberi keutamaan atasku dengan kenabian, maka aku diberi kelebihan harta di atas yang kau punya. Aku lebih baik daripada kamu. Maka silakan pilih, kamu yang mendoakan keburukan bagiku kepada Alloh atau aku yang mendoakan keburukan bagimu kepada Alloh?” “Berdoalah engkau terlebih dahulu.” Jawab Nabi Musa.

Musa dan Qarun kemudian pergi menemui Bani Israil yang sedang berkumpul di istana Qarun untuk melihat apa yang akan terjadi. Qarun kemudian mendoakan keburukan bagi Musa kepada Alloh agar Dia membenamkannya ke dalam bumi, tapi doanya tidak dikabulkan Alloh. Musa berkata, “Aku akan mendoakan keburukan bagimu kepada Alloh.”

Musa berdo’a, “Ya Alloh, perintahkanlah kepada bumi untuk menelan Qarun bersama harta dan seluruh perbendaharaannya.”

Alloh kemudian membenamkan Qarun dengan istana dan hartanya ke dalam bumi. Tidak ada yang dapat menolong dan menyelamatkannya selain Alloh ‘Azza wa Jalla. Tidak ada yang dapat menghindarkannya dari takdir Alloh, dan ia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.

Setelah menyaksikan kenyataan itu, jadilah orang-orang yang selalu memikirkan dunia, mereka yang sebelumnya mengangan-angankan kedudukan seperti Qarun, merasa menyesal dan berkata, “Aduhai, benarlah kiranya Alloh yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hambaNya dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya). Sekiranya Alloh tidak melimpahkan karuniaNya kepada kita, tentu Dia telah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Alloh).” Qarun binasa bersama dengan harta dan keterpedayaannya.

MUSA DAN QORUN

Ikut Partisipasi Mendukung Program, Salurkan Donasi Anda di Sini!

www.mutiarasurga.org