YAYASAN MUTIARA SURGA

Banyak Uang, Antara Kenyamanan dan Keheningan Batin

Bagikan :

Pernahkah Anda merenung tentang pernyataan “Banyak uang itu menyenangkan, tetapi belum tentu menenangkan”? Ungkapan ini mengandung kebijaksanaan mendalam yang menggambarkan bahwa kemakmuran materi tidak selalu berarti kedamaian jiwa. Dalam pandangan Islam, kekayaan hanyalah salah satu aspek dari kebahagiaan, dan belum tentu menciptakan kepuasan yang sejati.

Dalam perspektif kehidupan yang serba sibuk dan berorientasi material, sangat mudah bagi seseorang untuk terperangkap dalam hasrat untuk mengumpulkan harta. Pemikiran bahwa memiliki banyak uang akan membawa kebahagiaan sering kali menjadi pandangan yang terlalu dangkal. Islam mengajarkan bahwa kekayaan adalah ujian, dan bagaimana seseorang menggunakan dan berbagi harta mereka memiliki dampak yang jauh lebih dalam daripada sekadar kepemilikan itu sendiri.

Sebagai umat Muslim, kita diajak untuk merenungkan kata-kata bijak dari Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah, seorang cendekiawan dan pemikir Islam terkemuka. Beliau berkata “Seorang hamba—selamanya—berada di antara mendapatkan nikmat dari Allah dan terjerumus dalam dosa. Nikmat tersebut mengharuskan seseorang bersyukur pada-Nya dan akibat dosa mengharuskan seseorang beristighfar pada-Nya.”

Ketika kita berbicara tentang “kaya belum tentu cukup, miskin belum tentu kurang,” ini merujuk pada fakta bahwa memiliki banyak harta belum tentu memenuhi kebutuhan spiritual atau kebahagiaan batin. Seseorang yang terlalu terikat pada materi mungkin merasa kekurangan di dalam dirinya, meskipun harta berlimpah. Di sisi lain, seseorang yang memiliki sedikit harta mungkin memiliki kekayaan spiritual dan kebahagiaan batin yang jauh lebih besar.

Dalam menghadapi dinamika ini, Islam mengajarkan konsep syukur dan istighfar. Bertambahnya harta adalah saat untuk bersyukur kepada Allah, penggerak utama di balik semua nikmat. Namun, seiring dengan pertambahan harta, juga muncul potensi dosa seperti keserakahan, sombong, atau ketidakadilan. Oleh karena itu, istighfar menjadi penting untuk membersihkan jiwa dari dosa-dosa ini.

Ketika kita mempraktikkan syukur dan istighfar dalam hidup kita, kita merangkul keseimbangan antara kehidupan material dan spiritual. Kekayaan yang diberikan Allah hendaknya dielola dengan bijak, dengan tetap menjaga hati yang tulus dan jiwa yang bersih. Dalam konteks ini, kebahagiaan yang sejati ditemukan bukan hanya dalam kuantitas harta, tetapi dalam kualitas hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia.

Sebagai penutup, meskipun harta adalah anugerah yang dapat memudahkan hidup, kita harus selalu mengingat bahwa kebahagiaan batin dan kedamaian jiwa tidak bisa dicapai semata-mata melalui akumulasi harta. Sebuah pandangan yang seimbang antara dunia materi dan rohaniah adalah kunci untuk mencapai kedamaian yang hakiki. Dengan bersyukur atas nikmat Allah dan selalu berupaya melakukan istighfar, kita dapat menggapai kebahagiaan yang berkelanjutan dalam hidup kita.