"KISAH MENGAGUMKAN SEJARAH SYARI'AT QUR'BAN" - YAYASAN MUTIARA SURGA
“KISAH MENGAGUMKAN SEJARAH SYARI’AT QUR’BAN”

“KISAH MENGAGUMKAN SEJARAH SYARI’AT QUR’BAN”

Assalamu’alaikum warahmatullah Wabarakatuh,

Puji dan syukur hanya kepada dzat yang maha ghafur, shalawat salam senantiasa tercurahkan kepa nabi Muhammad SAW, kepada keluargnya, shabatnya dan kepada kita  Aamiin.

Sahabat Yamusa Yang budiman bagaimna Kabar semua?

Semoga Allah senantiasa menjaga sahabat semua Aamiin…!

Sebelumnya mohon maaf beberpa minggu ini kurang Update, biasa admin lagi sibuk,, hehe…

Admin lagi merampungkan Skripsinya dan persiapan wisuda SI nya, Alhamdulillah pada hari Selasa tanggal 29 Agustus 2017 kemarin admin diwisuda, sebanyak 180 orang yang di wisuda yang salahsatunya Admi, sebagai sarjana dan diploma STAI AL Hidayajh Bogor terdiri 3 jurusan. 130 wisudawan dan wisudawati SI prodi Pendidikan Agama Islam dan 50 orang 2 prodi lainya yang ada di STAI AL Hidayah Bogor. do’akan ya sahabat semua semoga ilmu admin bermanfaat, Aamiin.  

321

Baik sahabat semua, kali ini admin ingin berbagi tetang sepurar hari raya idul Adha berhubung sebentarlagi kita akan merayakan hari raya kita umat muslim yaitu hari raya idul Adha atau sering juga disebut idul Qurban.

Kalo dengar kara qurbban jadi inget kisah nabi kita mulia Nabi Ibrahim sebagaimana yang dikisahkan dalam Qur’an surat As-Shaafat ayat 99-111 dibawah ini:

Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

Ayat di atas menceritakan kisah nabi Islmail yaitu Ketika nabi Isma’il berada dalam usia gulam dan ia telah sampai pada usia sa’ya, yaitu usia di mana anak tersebut sudah mampu bekerja sahabat. yaitu usia tujuh tahun ke atas. Pada usia tersebut sahabat dianggap benar-benar bias mendatangkan banyak manfaat bagi orang tua sahabat, begitulah yang dirasakan oleh nabi Ibrahim.

Pada waktu Itu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berkata pada putranya, nabi Ismail “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”

Sebagaimna yang kita semua fahami bahwa mimpi para Nabi itu merupakan wahyu yang mesti dipenuhi. Dalam hadits mawquf –hanya sampai pada perkataan sahabat Ibnu ‘Abbas- disebutkan,

رُؤْيَا الأَنْبِيَاءِ فِي المنَامِ وَحْيٌ

Penglihatan para nabi dalam mimpi itu wahyu.” (HR. Al-Hakim)

Lantas bagaimna jawaban Nabi Ismail? Kira2 jawaban apa yang akan disampaikan beliau.

Beliau adalah salahsatu nabi dan rasul pilihan allah meskipun diusianya yang masih belia Nabi Isma’il ingin bersabar, ingin harap pahala dengan menjalankan perintah tersebut, mengharap ridha Rabbnya serta ingin berbakti pada orang tuanya. Nabi Ismail pun meminta pada bapaknya untuk melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Niscaya akan didapati Ismail termasuk orang-orang yang sabar atas kehendak Allah. Kesabaran tersebut dikaitkan dengan kehendak Allah karena memang tanpa kehendak Allah, kesabaran tersebut tak bisa dicapai.

Ketika Nabi Ibrahim dan Isma’il telah berserah diri, Nabi Ibrahim sudah akan menyembelih putranya sendiri, buah hatinya. Hal itu dilakukan untuk menjalankan perintah Allah dan takut akan siksa-Nya. Nabi Isma’il pun telah mempersiapkan dirinya untuk sabar. Ia merendahkan diri untuk taat kepada Allah dan ridha pada orang tuanya. Ibrahim lantas membaringkan Isma’il di atas pelipisnya. Ia dibaringkan pada lambungnya lalu siap disembelih. Kemudian Ibrahim memandang wajah Isma’il ketika akan menyembelihnya.

Ketika dalam keadaan gelisah dan cemas, Ibrahim diseru dan dikatakan bahwa benar sekali ia telah membenarkan mimpi tersebut. Ia telah mempersiapkan diri juga untuk hal itu. Yang terjadi ketika itu pisau sudah dilekatkan di leher.

Peristiwa ini adalah ujian Allah pada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, menunjukkan akan kecintaan Nabi Ibrahim pada Rabbnya. Allah menguji nabi Ibrahim lewat anak yang benar-benar ia cintai, diperintahkan untuk disembelih. Akhirnya, Allah mengganti dengan domba yang besar sebagai tebusan. Nabi Ibrahim bukan menyembelih Nabi Isma’il, namun menyembelih seekor domba. Itulah balasan bagi orang yang berbuat ihsan. Itulah Ibrahim yang merupakan bagian dari orang beriman. Orang yang berbuat ihsan di sini yang dimaksud adalah orang yang berbuat ihsan dalam ibadah, yang mendahulukan ridha Allah daripada syahwat.

 

Faedah dari Kisah

Nah sahabat semua sekarang faidah apa yang kita bias ambi dari kisah di atas?  Di antra faidah yang dapat kita ambil dari kisah diatas yaitu:

  1. Kisah ini terjadi setelah Nabi Ibrahim diuji akan dilemparkan dalam api. Kemudian ia diperintahkan berhijrah. Kisah Ibrahim ini menunjukkan keutamaan hijrah. Hijrah pertama di muka bumi adalah hijrahnya Nabi Ibrahim dari Irak ke Syam.
  2. Yang ingin disembelih adalah Nabi Isma’il ‘alaihis salam, bukan Ishaq seperti pernyataan sebagian ulama.
  3. Kecintaan pada Allah mesti dikedepankan daripada kecintaan pada istri dan anak.
  4. Orang beriman mesti diujin keimanannya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Maksud dari perintah menyembelih di sini adalah Allah memerintah kekasihnya (khalilullah) untuk menyembelih putranya di mana perintah ini amatlah berat. Itulah ujian bagi Ibrahim untuk membuktikan kalau ia murni mencintai Allah dan menjadikan ia khalilullah atau kekasih Allah seutuhnya. Itulah tanda kecintaan yang sempurna pada Allah.” (Ar-Radd ‘ala Al-Mantiqin, hlm. 517-518)

  1. Wajibnya taat dan berbakti pada orang tua selama dalam kebaikan.
  2. Mimpi para Nabi itu wahyu.
  3. Disyari’atkannya ibadah qurban.
  4. Orang yang dalam puncak kesulitan akan dibukakan jalan keluar.

Ibnu Katsir mengambil pelajaran dari kisah Ibrahim ini dengan mengatakan, “Itulah balasan bagi orang yang mentaati kami ketika berada dalam kesulitan dan kesempitan, maka dijadikan dalam urusan mereka jalan keluar. Dalilnya adalah firman Allah,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

9- Ada balasan besar bagi orang yang berbuat ihsan, sabar dan taat pada Allah.
dikutip dari : https://rumaysho.com/11623-pelajaran-dari-kisah-nabi-ibrahim-menyembelih-ismail.html

Untuk kali ini sekian dulu ya Sahabat YAMUSA.

inshaa Allah dikesempatan berikutnya admin akan share materi seputar Kaifiyat Shalat Idul Adha.

 

Leave a Reply

Close Menu
Chat Sekarang
Ada yang bisa dibantu?
Assalamualaikum
ada yang bisa dibantu?