YAYASAN MUTIARA SURGA

QABIL DAN HABIL

Bagikan :

Qabil dan Habil – Alloh pernah berjanji kepada Adam akan memberi anak cucu kepadanya untuk memenuhi bumi. Untuk itu, ia menunggu-nunggu janji tersebut. Kemudian Hawa pun hamil sehingga senang hati Adam karena ia akan menjadi seorang ayah. Sampai akhirnya saat-saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Hawa melahirkan anak yang dikandungnya. Alloh mengaruniakan kepadanya anak kembar, laki-laki dan perempuan. Adam menatap lekat kedua anaknya. Ia kemudian menamai yang laki-laki dengan nama Qabil dan yang perempuan dengan nama Iqlimiya’. Ia adalah seorang anak perempuan yang cantik dan mempesona.

Beberapa bulan kemudian Hawa mengandung lagi, sampai datang waktu melahirkan. Anak yang ia lahirkan lagi-lagi kembar, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki dinamai Habil dan yang perempuan Labuda. Keempat anak tersebut kemudian tumbuh bersama dalam bimbingan Adam ‘alaihissalam dan asuhan ibunda yang begitu penyayang; Hawa.  Iqlimiya’ lebih cantik dan lebih aktif daripada Labuda. Namun hal itu sama sekali tidak mengusik Adam yang mencintai semua anak-anaknya dengan sama rata tanpa pilih kasih. 

Setelah anak-anaknya tumbuh besar, mereka pun membantu Adam melaksanakan pekerjaanya. Qabil memilih bidang pertanian, lantas ia menggarap sawah, menanaminya dan merawatnya agar tanaman tumbuh dengan baik supaya dapat dipanen dan hasilnya untuk makan keluarga. Sedangkan Habil memilih bidang peternakan, ia menggembala kambing dan hewan ternak lainnya di padang rumput yang luas. Air susunya dapat mereka minum, dagingnya dapat mereka makan, dan bulu-bulunya dapat mereka jadikan sebagai perabot rumah tangga, pakaian, atau sebagai penutup. Adapun Iqlimiya’ dan Labuda, mereka berdua tinggal di rumah membantu Hawa menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga.

Suatu hari, saat senja mulai hilang di ufuk barat, seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang makan. Semua orang mulai menyantap makanan masing-masing, kecuali Habil dan Qabil. Mereka justru sibuk mencuri-curi pandang ke arah si cantik, iqlimiya’. Tatapan mereka yang mencuri-curi pandang akhirnya diketahui oleh Iqlimiya’. Adam menyadari hal itu. Ia merasa Qabil dan Habil kini sudah dewasa dan pantas untuk menikah. Ia juga berkewajiban untuk menikahkan keduanya. Akan tetapi, karena di muka bumi ini tidak ada orang lain selain mereka, maka syariat dan ajaran agama Nabi Adam memperbolehkan menikahkan saudara laki-laki dengan saudara perempuannya sendiri, dengan syarat menikahkan dengan saudari yang bukan kembarannya. Dengan begitu, berarti Qabil menikah dengan Labuda, saudari kembar Habil. Sedangkan Habil menikah dengan si cantik, Iqlimiya’ saudari kembar Qabil. Semua yang hadir saat itu pun bersuka cita, kecuali Qabil yang berteriak marah. Lantas Qabil keluar rumah dengan memendam amarah yang meyesakkan dada. Ia berjalan dengan kepala tertunduk. Langkahnya gontai tak tentu arah. Ia tidak tahu hendak pergi ke mana. Dalam pikirannya hanya ada Iqlimiya’, Iqlimiya, dan Iqlimiya’.

Setan melihat Qabil sebagai sasaran empuk. Ia menggodanya dan menyusup ke dalam relung hatinya seraya berbisik, “Habil, Adam lebih mencintai dia daripada kamu. Ayahmu akan menikahkan Habil dengan si cantik, Iqlimiya’, dan menyisakan untukmu si jelek, Labuda.” Qabil kembali ke rumah dan mendapati kedua orangtuanya terjaga dengan wajah yang dipenuhi roman kesedihan. Sungguh, setan telah memengaruhi anaknya. Padahal Adam semata-mata mencintai Qabil dan Habil, tanpa membedakan satu sama lain.

Akhirnya Adam memerintahkan kedua anak laki-lakinya tersebut untuk mempersembahkan qurban dari hasil pertanian dan peternakan. Siapa pun yang diterima persembahannya, ia lah yang berhak menjadi suami Iqlimiya’. Keduanya pun menerima ide itu dan bersiap-siap mempersembahkan qurban masing-masing kepada Alloh Ta’ala.

Adapun tanda-tanda Alloh menerima qurban seseorang ialah, qurban tersebut akan dilahap oleh api berwarna putih yang turun dari langit. Namun, bila qurban tersebut tidak diterima, maka tandanya ialah qurban tersebut masih tetap utuh (tidak dilahap api) hingga akhirnya membusuk. Tidak ada seorang pun manusia, hewan, ataupun burung yang mendekatinya.

Kemudian Habil pergi ke kandang ternaknya. Ia memilih kambing yang paling gemuk, paling bagus, dan paling kuat untuk ia persembahkan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Itu semua sebagai bukti kecintaannya kepada Alloh. Lain halnya dengan Qabil yang hanya mencintai diri sendiri, ia malah memilih hasil panennya yang paling jelek untuk ia persembahkan kepada Rabbnya.

Qabil dan Habil lantas meletakkan qurban masing-masing di atas puncak gunung untuk kemudian menanti putusan Alloh terhadap keduanya. Api berwarna putih turun menukik dari langit bagaikan tombak yang mengetahui dengan pasti sasarannya. Api itu dengan cepat menyambar qurban Habil. Ia pun tersungkur sujud sebagai ungkapan rasa syukur kepada Alloh. Sementara qurban Qabil yang zalim masih tetap ada dan Alloh tidak berkenan menerimanya.

Setan pun segera mendatangi Qabil dari arah depan, belakang, kanan, kiri, dan dari hadapannya. Ia berteriak, “Iqlimiya’ sudah terlepas dari tanganmu. Adam telah berdoa kepada Rabbnya, memohon agar berkenan menerima qurban Habil dan meninggalkanmu sendirian. Untuk itu lakukan sesuatu!. Seketika itu pula Qabil berteriak di muka Habil “Sungguh, aku pasti akan membunuhmu!” Habil menjawab ancaman saudaranya dengan tenang, “Sesungguhnya, Alloh hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Alloh, Rabb seluruh alam….” Habil kemudian pergi.

Suatu ketika, Habil keluar menggembalakan kambing seperti biasa. Sementara dari kejauhan, dua mata Qabil terus mengawasi. Ketika Habil larut dalam pekerjaannya, Qabil tiba-tiba datang dari arah belakang dengan membawa sebongkah batu besar. Qabil memukulkan batu besar itu ke kepala Habil hingga darahnya mengucur deras dan ia pun mati seketika sehingga setan pun keluar sambil tertawa.

Qabil terpaku di depan jasad saudaranya, Habil yang telah mati, tanpa tahu apa yang mesti ia perbuat. Ia kemudian memanggul jasad saudaranya. Ia terus saja berjalan sambil membawanya dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tatkala ia merasa letih, tiba-tiba saja ia melihat dua ekor burung gagak yang sedang bertarung hingga salah satu dari keduanya membunuh lawannya. Tak lama, gagak yang berhasil membunuh lawannya itu pun menggali tanah lalu menbugurkan mayat gagak yang terbunuh ke dalamnya. Seketika Qabil sadar bahwa Alloh telah mengirimkannya untuk mengajarinya. Ia pun menangis sambil berkata, “Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini..”

Qabil pun bergegas menggali tanah dan meletakkan mayat saudaranya di sana. Kuburan itu merupakan kuburan pertama yang ada di muka bumi. Kuburan untuk orang yang pertama kali menjadi korban pembunuhan dan digali oleh orang pertama yang melakukan pembunuhan. Sungguh, Qabil telah membunuh seperenam penduduk bumi pada waktu itu.

Ketika Adam kembali dari haji dan mendapati salah satu anaknya dibunuh oleh saudaranya sendiri. Bumi mendadak tidak mau menyerap darah Habil, tumbuh-tumbuhan mendadak mengeluarkan duri padahal sebelumnya tidak dan hewan-hewan juga lari dari manusia setelah terjadi tindak kejahatan yang sangat tercela ini. Adam menyaksikan anaknya, Qabil, membawa lari Iqlimiya’. Adam pun menyumpahi, ”Pergilah dan semoga murka Alloh menimpamu. Kemarahanku aku tujukan kepadamu dan kepada orang-orang yang melakukan kejahatan seperti yang kamu lakukan. Dan benarlah, sungguh balasan itu selalu sesuai dengan dosa yang diperbuat. Qabil pada akhirnya juga dibunuh oleh salah seorang dari anaknya sendiri. Dan selanjutnya, setiap ada tindak pembunuhan, maka dosa pembunuhnya juga ditimpakan kepada Qabil. Sebab, dialah orang yang pertama kali melakukan pembunuhan di muka bumi ini.

www.mutiarasurga.org