YAYASAN MUTIARA SURGA

DZULQARNAIN DAN YA’JUJ MA’JUJ

Bagikan :

Dzulqarnain

Dzulqarnain adalah seorang laki-laki yang dilahirkan dari keturunan Sam bin Nuh ‘alaihissalam. Ia hidup di istana ayahnya yang ketika itu menjadi salah seorang raja. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja.

Nama asli Dzul Qarnain adalah Hurmuz. Tapi ia lebih menyukai julukan Dzulqarnain. Ada yang meriwayatkan bahwa Hurmus dulu memakai topi besi yang memiliki dua tanduk, sehingga ia dijuluki Dzul Qarnain.

Suatu hari, Dzul Qarnain pergi bersama pasukannya untuk mencari hakikat iman, hingga ia bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ia pun masuk Islam melalui perantara Nabi Ibrahim. Raja Dzul Qarnain melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah bersama Nabi Ibrahim. Setelah itu, ia kembali lagi ke negerinya. 

Alloh memberi Dzul Qarnain para menteri yang terdiri dari kalangan ahli iman dan kebenaran. Khidir ‘alaihissalam menjadi menteri dan penasihat pribadinya. Dzul Qarnain berkeliling menjelajahi dunia bersama Khidir. Dan Khidir mengajarinya sebagian dari ilmu Alloh yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Khidir.

Dzul Qarnain menyiapkan pasukan untuk mendakwahkan manusia kepada Alloh Ta’ala, yang langsung dipimpinnya sendiri. Dzul Qarnain terus menerus menyeru ke jalan Alloh dalam wisata keimanannya, agar ia dapat menyebarkan keimanan dan keadilan di muka bumi, serta menunjuki manusia ke jalan yang lurus.

Dzul Qarnain telah mempelajari seluruh bahasa penduduk bumi, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan semua orang dengan bahasa mereka masing-masing. Perjalanan dakwah Dzulqarnain sampai di belahan bumi bagian barat, tempat matahari terbenam.

Dzul Qarnain bukanlah Nabi, tapi Alloh telah mengilhaminya tentang apa yang harus ia lakukan dan ia katakan. Itu karena Alloh mencintainya, lantaran ia senantiasa taat kepada-Nya. Juga lantaran ia berbuat kebajikan dan beramal saleh. Setelah berhasil sampai di wilayah matahari terbenam, ia ingin pergi menuju wilayah matahari terbit. Maka berangkatlah ia bersama pasukannya yang besar lagi kuat untuk melihat hal-hal baru yang menakjubkan di bumi Alloh. Perjalanan Dzul Qarnain dan pasukannya menghabiskan waktu dua belas tahun, hingga akhirnya sampai di tempat matahari terbIt. Di sana ia melihat keajaiban yang lain dari ciptaan Alloh. Ia menemukan suatu kaum yang tidak beralas kaki dan tidak pula memakai pakaian. Tidak ada penutup atau penghalang antara mereka dengan matahari. Tidak ada rumah yang mereka tempati dan dijadikan pelindung dari sengatan matahari. Kemudian Dzul Qarnain menemukan tulang belulang. Ia bertanya kepada penduduk setempat tentang tulang belulang tersebut. Mereka menjawab, “ini adalah tulang belulang prajurit yang sampai ke sini lebih dulu daripada kalian. Mereka terbakar oleh sengatan matahari hingga mati.”

Lantas Dzulqarnain mengajari mereka cara membangun rumah yang dapat melindungi mereka dari sengatan sinar matahari. Ia juga mengajak mereka untuk menyembah Alloh, Dzat Yang Maha Esa, Mereka pun banyak yang beriman kepada Alloh.

Perjalanan Dzulqarnain berlanjut. Ia berangkat memimpin pasukannya untuk mencari tempat-tempat yang baru dan makhluk-makhluk yang lain untuk diajak menyembah kepada Alloh.

Ya’juj Ma’juj

Ya’juj dan Ma’juj adalah makhluk Alloh yang aneh dan asing. Mereka mempunyai bentuk, ukuran, dan fisik yang membuat manusia terkejut  dan heran bila melihat mereka. Mereka berasal dari keturunan Yafits bin Nuh ‘Alaihissalam. Alloh memanjangkan usia mereka dan memperbanyak keturunannya. Ukuran mereka, sebagian ada yang tingginya sejengkal, ada yang tingginya setinggi pohon dan ada pula yang tinggi dan lebarnya sama. Mereka memiliki taring seperti binatang buas, cakar seperti kucing, dan rambut yang panjang yang dapat melindungi dan menjaga badan mereka dari teriknya sinar matahari musim panas dan dinginnya cuaca musim dingin. Mereka tidak akan mati sebelum mempunyai seribu orang anak.

Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Alloh, suka merampok, malas bekerja, serta suka mengganggu dan merugikan manusia yang ada di dekatnya. Mereka memakan tanaman, biji-bijian, dan binatang ternak milik manusia. Jika mereka minum air, maka tidak ada yang tersisa sedikit pun. Mereka tinggal bersebelahan dengan sekelompok manusia biasa di sebuah tempat yang bernama Bainas Saddain.

Kemudian, Dzul Qarnai datang ke Bainas Saddain. Di sana ia bertemu manusia yang sedang merasakan pahitnya kehidupan karena Ya’juj dan Ma’juj. Akan tetapi, Dzul Qarnain menghadapi satu permasalahan, yaitu komunikasi. Ia tidak dapat memahami bahasa penduduk setempat dan mereka pun tidak memahami bahasanya. Sampai akhirnya, Alloh menunjukkan suatu cara kepadanya untuk memahami apa yang mereka kehendaki. Penduduk setempat mengajukan sebuah penawaran kepada Dzul Qarnain, mereka berkata, “Sesungguhnya, Ya’juj dan Ma’juj adalah sekelompok manusia yang membuat kerusakan di muka bumi. Maukah engkau kami bayar untuk membuat dinding penghalang antara kami dan mereka”. Dzul Qarn’ain menjawab, “Apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadaku lebih baik daripada imbalanmu, maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka. “Dzul Qarnain meminta pertolongan kepada Alloh terlebih dahulu, kemudia baru ia meminta pertolongan kepada manusia. Tujuannya, ia ingin mengajarkan kepada mereka bahwa yang pertama adalah kekuatan iman, kemudian baru kekuatan manusia.

Dzul Qarnain mulai membangun dinding yang dibantu oleh prajuritnya dan orang-orang tersebut. Dzul Qarnain mulai mengukur jarak di antara kedua (puncak gunung), yaitu gunung yang mengelilingi kawasan tersebut. Setelah pekerjaan itu selesai, Dzul Qarnain berkata, “Dinding ini adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila janji Rabbku telah tiba, Dia akan meruntuhkan dinding tersebut, dan janji Rabbku ini benar.”

Keesokan harinya Ya’juj dan Ma’juj berusaha menghancurkan dinding itu. Mereka hendak memakan tanaman dan mencuri biji-bijian milik manusia yang berdekatan dengan mereka. Namun, mereka tidak sanggup melakukannya. Kuku-kuku dan taring-taring mereka tidak mampu menghancurkan dinding yang kokoh itu. Sungguh Alloh telah menentukan bagi mereka suatu waktu untuk keluar ke muka bumi dan menghancurkan dinding tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu dari tanda-tanda kiamat.

Dzul Qarnain kembali ke negerinya setelah perjalanan keimanannya berhasil. Kemudian malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya yang suci.

Ikut Partisipasi Mendukung Program, Salurkan Donasi Anda di Sini!

www.mutiarasurga.org